Lampu Tenaga Surya solar cell dan penerangan jalan umum pembangkit listrik tenaga surya Terangi Borobudur di Malam Hari

Instalasi panel surya tersebut memanfaatkan penyinaran matahari pada siang hari untuk menghasilkan tenaga listrik untuk penerangan lampu sepanjang malam melalui 10 panel surya yang dihibahkan Greenpeace.

Kepala Tim Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Arif Fiyanto mengatakan, pemasangan lampu tenaga surya itu adalah pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti angin, sinar matahari dan panas bumi.

borobudur

“Alat ini menghasilkan energi bersih untuk borobudur karena menggunakan pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan,” ujar Arif seperti dikutip dariAntara.

Cara kerja panel surya tersebut antara lain menyerap sinar matahari selama kurang lebih 4-12 jam saja pada siang hari. Alat tersebut kemudian akan menyalurkan sinar matahari yang ditangkap ke dalam baterai dan ketika disalurkan ke listrik pada malam hari akan menghasilkan listrik untuk penerangan dengan kapasitas maksimal 2.000 watt.

“Lampu ini akan menyala selama 12 jam secara otomatis ketika senja datang dan akan padam pada pagi harinya karena ada sensor di dalamnya,” ujarnya.

Di sepanjang Borobudur sekitar 10 lampu penerangan bertenaga surya dengan energi sebesar 40 watt per lampu atau sekitar 120 watt jika dikonversikan seperti lampu mercury biasa.

Satu lampu dilengkapi 2 alat panel surya yang menghasilkan sekitar 50 watt-100 watt per 1 alat panel surya.

Harga panel surya ini sekitar Rp60 juta per alat panel dan didatangkan dari sejumlah negara seperti China, Jerman, Thailand, Swedia dan Jepang.

“Alat panel surya itu mahal, tapi merupakan alat satu-satunya yang tidak berdampak polusi bumi,” kata dia.

Manfaatnya, ujar dia, biaya tagihan listrik juga sedikit berkurang dan tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

Dalam rangkaian menciptakan energi bersih ini, Greenpeace bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat juga mendirikan stasiun penyelamatan bumi (Climate Rescue Station) berbentuk bola berlantai empat dengan peruntukan sebagai miniatur museum untuk menyadarkan masyarakat tentang solusi energi terbarukan dan upaya memerangi perubahan iklim.

Stasiun mini ini juga menggunakan sumber energi listrik yang berasal dari tenaga surya dan angin. Di dalamnya juga dilakukan berbagai kegiatan seperti pelatihan workshop dan trainingbagi para pelajar STM.

“Kami ingin menggambarkan kalau alat panel surya ini sangat mudah diaplikasikan oleh masyarakat setempat terutama yang belum memiliki akses listrik,” tambahnya.

Stasiun ini dibangun sejak 13 Oktober hingga 28 Oktober 2012 untuk memberikan keterangan dan informasi mengenai energi rumah kaca terhadap masyarakat sekitar.

Program ini dilakukan atas kerjasama Greenpeace, Kementerian Pendidikan dan Budaya dan Aliansi Adat Masyarakat Nusantara. [ikh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


4 + six =

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>